Showing posts with label PERISTIWA SEJARAH. Show all posts
Showing posts with label PERISTIWA SEJARAH. Show all posts

Wednesday, January 6, 2021

Bagian Bangunan Kraton Surakarta Part 3 #Habis

arifsae.com - Artikel kali ini merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya PART 2 DISINI. Semoga bermanfaat.

***


Kompleks Kamandungan Ler

Kompleks ini merupakan area terdepan kraton dari sebelah selatan. Area ini menurut banyak orang sebagai Icon Kraton Surakarta. Hal ini dilihat dari ornament yang unik sehingga menjadikannya sangat menarik. Ada perpaduan bangunan Panggung Sangga Buana yang menjulang tinggi dengan ukiran-ukiran menawan. Untuk masuk kedalam Kompleks Kamandungan Ler, harus melewati pintu utama kraton berupa Kori Branjanala atau Kori Gapit.


Kori Brajanala merupakan gapura masuk utama yang dikelilingi dinding Benteng Baluwarti. Pintu gerbang ini dibangun oleh PB III tahun 1744 dengan bahan kayu Jati kualitas super. Bangunan atapnya berbentuk Joglo Semar Tinandhu. Pada era PB III, Kori Bajanala selalu dijaga oleh 8 orang Abdi Dalem di pos penjagaan. 

Kemandungan Ler
Sumber kesolo.com

Dari Kori Brajanala, terlihat jelas bangunan megah berornamen khas ukiran Surakarta yang diberi nama Bangsal Kamandungan. Disini ada pelataran luas yang diberi nama Bale Rata. Bangsal Kamandungan merupakan tempat prajurit Kraton Surakarta bertugas untuk mengecek para tamu kerajaan yang akan masuk kedalam kraton. Petugas ini dinamakan Jajar Mendung. 


Disini juga ada bangunan Gita Swandana, yaitu tempat untuk menyimpan tunggangan raja seperti mobil atau kuda. Bangunan ini berada di sebelah Kori Kamandungan. Kori Kamandungan merupakan pintu utama yang menghubungkan Kompleks Kamandungan menuju ke kompleks kraton lainnya, Sri Manganti.

Kompleks Sri Manganti

Setelah membahas tentang Kompleks Kamandhanagan Lor, maka setelah melewati Kori Kamandhungan akan ada area Sri Manganti. Sri Menganti sendiri mempunyai arti mengajak atau menggandeng. Ada juga yang mengartikan sebagai menanti, atau tempat menunggu. 


Area ini terdiri dari dua bagian bangunan, bangunan pertama dinamakan Bangsal Smarakatha yang letaknya sebelah barat, dan sebelah timur ada Bangsal Marcukundha. Bangsal Smarakatha dulu digunakan untuk tempat menunggu pegawai menengah keatas yang akan menghadap raja. Sekarang tempat ini dijadikan tempat untuk berlatih kesenian dan pedalangan.

Bangsal Smarakhata
(sumber: merbabu.com)

Sedangkan sebalah timur ada Bangsal Marcukundha, yaitu tempat berbentuk limasan yang terletak diseblah timur kompleks Sri Manganti. Dulu bangsal ini duguanakn untuk pelantikan pegawai dan pejabat baru. Sekarang tempat ini digunakan untuk menyimpan Krobongan Madirenggo yaitu tempat untuk melakukan Sunat bagi putera Susuhan. 


Disini juga ada panggung Sangga Buana yaitu bangunan bertingkat 5 lantai yang dulunya digunakan untuk meditasi raja. Secara folosofi, panggung Sangga Buana dianggap sebagai Lingga dan Kori Sri Menganti dianggap sebagai Yoni. Menurut kepercayaan Jawa, Lingga-Yoni merupakan lambang kesuburan umat manusia. 

Sri Mengantai
(sumber: kesolo.com)

Kompleks Sri Menganti ini merupakan salah satu jalan untuk memasuki tempat utama kraton, Kompleks Kedathon. Pintu yang harus dilewati adalah Semar Tinandu, atau sering dikenal dengan Kori Sri Manganti. Kori Sri Menganti ini terdapat hiasan berupa Sri Makuta Raja yang menjadi logo bagi Kasultanan Surakarta. Disamping kanan dan kiri Kori Sri Menganti terdapat relief berupa lambang pria dan wanita.


Dari semua bangunan yang ada di kompleks ini, Bangsal Sri Menganti menjadi bagian paling penting, karena bagian ini merupaka bagian ruang tunggu raja yang menungggu raja lain yang akan berkunjung ke kraton. Diatas pintu sebelah kanan bangsal Sri Menganti ada lambang kerajaan yang merupakan Candra Sangkala Memet yang berbunyi, “senjata kasalira rasaning narendra” yang berarti seorang raja memiliki kewajiban mendamaikan pertikaian dan menciptakan perdamaian. 

Kmpleks Kedathon

Kompleks Kedhaton merupakan inti dari bengunan kraton. Untuk memasuki kompleks ini, bisa melalui Kori Sri Manganti. Karena termasuk inti kraton, maka tidak semua orang bisa dengan mudah memasukinya. Untuk wisatawan hanya diperbolehkan dihalaman depan saja. Dihalaman depan ini banyak terdapat Pohon Sawo Kecik, yang mempunyi makna serba baik.

Depan Kedhaton
(Sumber: kesolo.com)

Bangunan tertinggi disini bernama Panggung Sangga Buwana yang berbentuk menara segi delapan, terdiri dari lima lantai setinggi 35 meter. Pada zaman dulu, tempat ini digunakan untuk melakukan meditasi raja, serta untuk mengawasi benteng Vastenburg VOC Belanda yang berada didepan Gladak Kraton. Pada puncak bangunan, terdapat arah mata angin yang dikendarai manusia sambil memanah. 


Dikompleks ini terdapat Sasana Sewaka yang digunakan untuk upacara adat, seperti Tingalan Jumeneng atau Grebeg. Bangunan ini merupakan peniggalan Kraton Kartasura sebelum pindah ibu kota. Didepan Sasana Sewaka terdapat berbagai bangsal yang berjejer dari utara ke selatan, Bangsal Bujana berfungsi menjamu pengikut tamu kerajaan, Bangsal Pradangga untuk menabuh gamelan dan Bangsal Musik untuk pertunjukan seni musik. 

Arsitekturnya dirancang menghadap ke timur, sebagai perlambangan kekuasaan raja. Bangunan yang terdapat di Sasana Sewaka seperti Maligi, Paningrat, Paningrat Bedhayan. Disebelah selatan ada Sasana Handrawira, digunakan untuk perjamuan raja dengan tamu agungnya. Tempat ini juga digunakan untuk acara-acara umum seperti seminar, talk show dan lainnya.


Sebelah selatan Sasana Handrawina terdapat Sasana Pustaka, yaitu perpustakaan kerajaan dan juga tempat untuk menyimpan barang-barang hadian yang diberikan kepada raja. Tidak semua orag bisa mengakses bangunan yang terdiri dari dua lantai ini, butuh ijin khusus untuk memasukinya. Disebelah barat, ada bangunan yang menjadi inti dari Kedhaton. Bangunan inti ini menjadi tempat penyimpanan berbagai pusaka kerajaan dan tahta raja yang menjadi simbol kebesaran kerajaan, nama tempat ini adalah Ndalem Ageng Prabasuyasa.

Sasana Sewaka
(sumber: kesolo.com)

Disini juga terdapat Masjid Pudyasana, yaitu masjid yang digunakan oleh para keluarga kraton. Disinilah tempat pensucian jenazah raja-raja yang mangkat. Masih dikompleks ini, ada bangunan yang digunakan oleh para putra putrei garwo ampeyan atau selir raja. Mereka diperbolehkan tinggal disini sampai dewasa, kalau sudah dewasa mereka harus pindah ke tempat yang lain. 

Kompleks Magangan

Magangan atau Kamagangan berakar dari kata Magang. Tempat ini sesuai dengan akar katanya digunakan untuk para calon Abdi Dalem atau pegawai kerajaan untuk berlatih, ujian penerimaan dan apel kesetiaan. Proses ini dilalui para calon sebelum diterima sebagai pegawai tetap kerajaan. 

Kemagangan
(Sumber: kesolo.com)

Ditengah-tengah Pandapa Kemagangan, terdapat bangsal yang dipakai untuk melakuka Pisowanan Abdi Dalem perempuan. Sekarang, kompleks ini sering digunakan sebagai tempat penyelenggaraan acara kebudayaan. 

Kompleks Kamandungan Kidul

Kori Gadungmlathi digunakan untuk keluar dari area Kemagangan. Ada bangunan Kamandungan Kidul ketika keluar dari Kamagangan. Kompleks ini digunakan untuk melakukan ritual upacara pemakaman raja ataupun permaisurinya. 

Kori Brojolo Kidul

Seperti halnya kompleks Kamandungan Lor, di kompleks ini terdapat kori sebagai pintu gerbang untuk keluar dari komplkes. Gerbang itu dinamakan Kori Brojonolo. Kori ini diapit oleh bangsal kecil, Bangsal Nyutra dan Bangsal Mangundara. Gerbang ini juga menghubungkan dengan jalan Supit Urang yang menjadi penghubung antara Kemandhungan Kidul dengan Siti Hinggil Kidul.

Kompleks Siti Hinggil Kidul

Didalam kompleks ini terdapat bangunan terbuka yang dikelilingi oleh pagar besi pendek. Bangunan-bangunan disini lebih sederhana dibandingkan denga bangunan kraton lainnya. Filosofinya, melambangkan perjalanan spiritual, yaitu bersatunya manusia dengan Tuhan sehingga harus meninggalkan kemewahan dan keinginan duniawi. 

Siati Hinggil Kidul
(kesolo.com)

Disekitar Siti Hinggil Kidul, terdapat Alun-Alun Kidul yang dulu sering digunakan untuk sarana hiburan bagi keluarga raja atau latihan keprajuritan. Di sini juga terdapat sepasang pohon beringin yang berada ditengah-tengah alun-alun. Sebagai wilayah privat kerajaan, alun-alun ini dikelilingi oleh tembok tinggi dan disekitar lokasi terdapat rumah para bangsawan kerajaan.

Alun-alun

Dilingkungan ini juga terdapat sebuah bangunan kecil yang digunakan sebagai tempat untuk memelihara hewan pusaka Kebo Bule yang diberi nama Kyai Slamet. Pintu gerbang untuk keluar dari kawasan kraton ini dinamakan Gapura Gading. []

HABIS TAMAT

Bagian Bangunan Kraton Surakarta Part 2


arifsae.com - Artikel kali ini merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya PART 1 DISINI. Semoga bermanfaat.

***

Untuk lebih jelasnya mari kita bahas bagian-bagian arsitek Kraton Surakarta satu persatu,

Alun-Alun Lor

Bagiaan paling depan untuk memasuki Kraton Surakarta adalah Alun-Alun Lor (Utara). Kompleks ini ditanami pohon beringin dipinggiran dan tidak diberi pagar. Sedangkan pohon beringin ditengah-tangah alun-alun diberi pagar, wajar saja diberi nama Waringin Sangkeran (Beringin yang dikurung). Disebalah barat bernama Dewandaru (Keluhuran), dan beringin timur yang bernama Jayandaru (Kemenangan). Konon, pohon ini hasil dari perpindahan pohon beringin yang dulu terdapat pada Kraton Kertasura sebelum pindah ibu kota ke Surakarta.

Wednesday, December 30, 2020

Bagian Bangunan Kraton Surakarta Part 1

Sri Radya Laksana (sumber: wikipedia)

arifsae.com - Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sudah di bangun sejak masa pemerintahan Sri Susuhan Paku Buwono II sejak tahun 1744. Sebelumnya, pusat Kraton terletak diwilayah di Kartasuro. Perpindahan Kraton diakibatkan karena Kraton Kartosuro rusak parah akibat kerusuhan Geger Pacinan tahun 1743. Bagi sebuah kerajaan, sebuah kraton yang sudah “tercemar” oleh para pembrontak maka harus dipindah.


PB II memindahkan Kraton ke sebuah desa bernama Desa Sala atau Solo. Alasan perpindahan kedesa itu dikarenakan dekat dengan Sungai Beton, atau lebih dikenal dengan Sungai Bengawan Solo. Suatu wilayah apabila dekat dengan sungai, maka akan dipastikan tanahnya subur. Sejak berpindah kraton itu, Desa Solo berubah menjadi Surakarta Hadiningrat.


Seperti sudah dijelaskan diatas, bahwa pada tahun 1755 Masehi, terjadi Perjanjian Giyanti yang membagi wilayah Kerajaan Mataram menjadi dua bagian, yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. Setelah berpisah, Kasultanan Yogyakarta berpindah 60 Km keatas Barat dari Surakarta. Wilayah ini berpusat di Yogyakarta. Sedangkan Kraton Surakarta tetap berada di tempat serupa.


Bangunan Kraton Surakarta didirikan mengarah antara Utara ke Selatan. Konsep kraton di Jawa pada umumnya  memiliki nilai dan konsep kosmologi berupa lingkaran konsentris. Istana utama, Kompleks Kedhaton, menjadi tempat kediaman dan pusat dari kraton ditempatkan di tengah-tengah sebagai pusat utama. Sedangkan bangunan-bangunan lainnya mengitari Kedhaton sebagai pendamping dari inti kraton utama.


Istilah ini disebut sebagai negara agung, yaitu konsep negara yang ada ibu kota dan wilayah-wilayah lain yang mengitarinya. Bangunan Kedhaton di Kasunanan Surakarta sebagian besar berwarna putih dan biru yang menggambarkan kesucian dan kecerahan. Ditambah dengan campuran ornamen gabungan budaya Jawa dan Eropa yang membuat arsitekturnya menjadi menawan.  


Bagi kalangan yang terikat secara langsung maupun tidak langsung, menganggap  bahwa bangunan kraton masih memilki makna filosofis yang tinggi, bahkan termasuk bagian bangunan-bangunan lain disekitarnya. Begitu juga dengan Kraton Surakarta. Salah satu aktor penting orang yang mengarsiteki kraton adalah Pangeran Mangkubumi. Dialah orang yang kelak dikemudian hari menjadi raja pertama Kasultanan Yogyakarta sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono I. Maka tak heran, pola dasar dan tata ruang antara Kraton Surakarta dan Kraton Yogyakarta tidak banyak perbedaan, justru sebaliknya, banyak memiliki kesamaan dari berbagai sudut.


Proses pembangunan Kraton Surakarta sendiri dilakukan secara bertahap sesuai dengan pola dasar kraton yang telah dibuat oleh Pangeran Mangkubumi. Kraton juga pernah mengalami renovasi dan restorasi besar-besaran terutama era Sri Paku Buwono X antara tahun 1893-1939.

 

Bangunan-bangunan di Kraton terdiri dari bagian latar, inti kraton, dan bagian belakang kraton. Secara garis besar, bagian kraton meliputi, (1) kompleks Alun-Alun Lor; (2) kompleks Kamandhungan Lor; (3) Kompleks Sri Manganti; (3) Kompleks Kedhaton; (4) Kompleks Kamagangan; (5) Kompleks Sri Manganti Kidul; (6) Kamandhunga Kidul; (7) Kompleks Siti Hinggil Kidul; dan (8) Alun-Alun Kidul.


Semua bagian itu dikelilingi dengan Baluwati, yaitu dinding pertahanan dengan tinggi sekitar tiga sampai lima meter dengan ketebalan satu meter. Kompleks kraton yang berada didalam lingkungan dinding adalah dari Kamandungan Lor sampai Kamandhungan Kidul.


Untuk lebih jelasnya mari kita bahas bagian-bagian arsitek Kraton Surakarta satu persatu, BERSAMBUNG... PART 2 DISINI.


Sunday, December 27, 2020

Kelanjutan Kerajaan Jawa #SeriKeratonJawa

Sultan Agung
sumber: rayanet.web.id

arifsae.com - Indonesia saat ini merupakan negara dengan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tapi, sebelum Indonesia menjadi negara Republik, ternyata sebagian besar wiayah di Indonesia berbentuk kerajaan. Bahkan pada masa kejayaanya, kerajaan-kerajaan di Indonesia pernah diakui oleh kerajaan besar dibelahan dunia lainnya.


Kerajaan-kerajaan ini hadir dan eksis pada masa Hindu-Budha sampai kedatangan Islam di Indonesia. Sebut saja Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang. Kerajaan ini menjadi kerajaan maritim yang disegani dikawasan Asia Tenggara. Atau Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, yang luas wilayahnya bahkan melebihi luas wilayah Indonesia saat ini.


Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit eksis pada masa Hindu-Budha. Setelah era Hindu-Budha berakhir (dengan ditandainya masuknya ajaran Islam), maka bergantilah corak Kerajaan yang ada di Indonesia menjadi Islam. Dengan masuknya Islam, maka landasan Islam yang menjadi ciri khas pemerintahannya. Ketika kedatangan penjajah yang mencoba ikut campur dalam kedaulatan wilayahnya, tak jarang kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia menjadi yang terdepan ketika melawan penjajah VOC Belanda. Salah satu contoh kerajaan itu adalah Kerajaan Demak, Kerajaan Pajang, dan Kerajaan Mataram Islam.


Dari semua kerajaan-kerajaan diatas, hanya tinggal Kerajaan Mataram Islam yang masih eksis hingga saat ini. Kerajaan-kerajaan, yang setidaknya melanjutkan kekuasaanya, ini tetap hidup dan mendarah daging di lungkungan orang Jawa. Baik bangunan atau ajaran dan kebudayaanya masih terjaga sampai sekarang. 


Kelanjutan Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam atau Kasultanan Mataram berdiri sekitar abad ke-17 yang didirikan oleh Sutawijaya atau Panembahan Senapati putera dari Ki Ageng Pemanahan. Kerajaan ini boleh dikatakan sebagai penerus dari Kasultanan Pajang sepeninggal Raja Hadiwijaya atau Joko Tingkir. Bahkan lebih jauh, penerus Kasultanan Demak yang juga merupakan kelanjutan dari Kerajaan Majapahit.


Didalam Kerajaan inilah muncul sosok raja yang membawa pada keemasannya, dialah Mas Rangsang atau Sultan Agung Prabu Hanyongkrokusumo. Pada masa Sultan Agung, wilayah kekuasaanya mencakup sebagian Pulau Jawa (sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur) hingga Madura. 


Bahkan, Sultan Agung berani menyerang VOC di Batavia pada tahun 1628-1629 Masehi, disaat kerajaan lain segan dan takut terhadap kekuatan VOC. Namun sayang, setelah mengalami kejayaanya, Kasultanan Mataram perlahan meredup pengaruhnya sejak meninggalnya Sultan Agung. VOC secara berangsur-angsur berhasil memecah belah kerajaan ini menjadi beberapa bagian.


Puncaknya, pada tanggal 13 Februari 1755 terjadi Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram Islam menjadi dua wilyah, yaitu Kesunanan Surakarta dibawah raja Susuhan Paku Buwono III dan Kesultanan Yogyakarta dikendalikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I. Sejak saat itu, Kerajaan Mataram Islam telah pecah. Dan kedua kerajaan pecahaanya dianggap sebagai kelanjutan dari Kasultanan Mataram Islam.


Tidak sampai disitu, perpecahan tetap terjadi di tubuh kerajaan-kerajaan yang dianggap sebagai penerus Dinasti Mataram itu. Karena 2 tahun berselang sejak Perjanjian Giyanti, Kasunanan Surakarta terpecah lagi. Sejak 17 Maret 1757, Raden Mas Said dan Sultan Paku Buwana III menandatangani Perjanjian Salatiga, yang memberikan hak kepada Raden Mas Said untuk menguasai wilayah Timur dan Selatan dari wilayah Mataram. Gelar dari Raden Mas Said adalah Mangkunegara I. Kemudian diberikan wilayah yang berkedudukan di Pura Mangkunegaran.


Perpecahan tidak hanya terjadi dalam  tubuh Kasunanan Surakarta, gejolak juga terjadi di Kasultanan Yogyakarta. Karena pada tahun 1813, didalam wilayah Kasultanan Yogyakarta timbul perselisihan di wilayah kepangeranan yang mengakibatkan wilayah itu memisahkan diri. Wilayah itu adalah Kadipaten Paku Alaman dengan raja Pangeran Nata Kusuma bergelar Pangeran Adipati Paku Alam yang bertempat tinggal di Pura Paku Alaman.


Istana Para Raja

Sebagai sebuah raja, tentu selayaknya sang raja mempunyai istana sebagai lambang kebesaran sebuah kerajaan. Istana untuk para Raja-Raja di Jawa lazim disebut dengan Kraton. Istilah keraton atau sering ditulis kraton, karaton atau kedhaton, berasal dari kata kratuan. Arinya, tempat dimana ratu atau raja tinggal.


Kraton merupakan bangunan yang mewah dan besar yang lazim didiami oleh keluarga kerajaan. Biasanya setiap kraton memiliki ciri khusus dan menjadi identitas bagi kerajaan sekaligus sebagai tempat untuk menjalankan roda pemerintahan. Biasanya selain menjadi pusat pemerintahan, juga sebagai lambang budaya dan tentunya tempat tinggal para keluarga raja.


Dalam tulisan ini, akan di bahas secara ringkas mengenai bentuk bangunan dan bagian-bagian arsitektur kraton Jawa sebagai penjaga budaya yang masih tersisa. Keempat kerajaan itu adalah Kraton Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran, Kraton Kasultanan Yogyakarta, dan Pura Paku Alaman yang masih lestari hingga kini.[]

Bersambung ke BAB I DISINI.

Friday, October 12, 2018

Bendera Merah-Putih dalam Kajian Tradisi

Merah-Putih

Monday, August 27, 2018

Ini Perbedaan China, Hong Kong, Taiwan dan Macau

Bendera RRT, Hong Kong, Taiwan dan Macau
arifsae.com - Ditengah meriahnya ajang Asian Games 2018 yang diadakan di Jakarta dan Palembang, ternyata menyisakan pertanyaan tersendiri. Pertanyaan itu adalah perbedaan mengenai China, Hong Kong, Taiwan dan Macau. Pertanyaan itu muncul karena ke empat negara tersebut ikut bagian dalam ajang empat tahunan ini dan menggunakan bendera sendiri-sendiri.

Lalu peranyaanya adalah apakah perbedaan ke empat negara itu? Mari kita bahas ringkas sekilas.

Pertama, China. Nama resmi negara ini adalah People Republic of China atau dalam bahasa Indonesia Republik Rakyat China (RRC). Namun sejak tahun 2014, berdasarkan Keppres Nomor 12 Tahun 2014, SBY mengubah nama penggunaan Republik Rakyat China menjadi Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Tiongkok merujuk pada negara China atau Cina. Oleh karena nya, orang-orang keturunan Tiongkok di Indonesia disebut Tionghoa yang setara dengan orang Jawa, Sunda, Madura, dan lain-lain.

Negara ini merupakan penganut ideologi komunis terbesar di dunia, termasuk dengan jumlah penduduknya yang sudah diaspora diseluruh negara. Karena saking banyaknya, orang Tionghoa sudah ada hampir disetiap negara di dunia. Ibu Kota nya di Beijing dan menggunakan sisitem ekonomi sosialis.

Bagi orang-orang yang tinggal di Hong Kong, Taiwan dan Macaru, wilayah RRT sering disebut sebagai mainland (tanah daratan). Negeri Tirai Bambu ini bisa dikatakan sebagai induk dari ketiga negara yang akan dijelaskan kemudian.

Kedua, Hong Kong. Hong Kong merupakan negara yang dikatakan semi merdeka. Nama resminya adalah Daerah Administrasi Khusus Hong Kong, Republik Rakyat Tiongkok. Sejak kekalahan Tiongkok di Perang Opium (1839-1842) dari Kerajaan Inggris, Hong Kong menjadi koloni Inggris.

Sejak 1898, wilayah ini disewakan New Territories selama 99 tahun. Sejak 30 Juni 1997, wilayah ini diserahkan kepada RRT melalui Deklarasi Bersama Sino-Inggris. Sejak 1997, wilayah ini berasaskan "satu negara, dua sistem".

Maksudnya, meskipun Hong Kong bagian dari RRT, tapi memiliki sistem negara sendiri, mulai dari Bendera, mata uang Hong Kong Dolar (HKD), pasport dan ekonomi kapitalis (tidak sama dengan RRT yang sosialis). Untuk masalah militer, Hong Kong memiliki polisi sendiri, tapi tidak memiliki Angkatan Perang  karena masih dikendalikan RRT.

Hong Kong juga terkenal sebagai Asia's World City (Kota Asia Dunia), kota gemerlap dengan gedung-gedung pencakar langit, perdagangan dunia, industri film dan pusat bisnis. Disini juga banyak media internasional seperti BBC, CNN, VOA, Al-Jazeera yang mendirikan markasnya, tujuannya agar lebih mudah meliput RRT yang kurang demokratis terhadap pers.

Tahun 2014, Hong Kong sempat bergejolak dengan "Revolusi Payung" dibawah Joshua Wong. Sikap anti-RRT masih melanda Hong Kong karena sering mengintervensi pemimpin baru yang demokratis. Banyak orang Hong Kong tidak menerima jika dsebut sebagai Chinese, mereka lebih suka disebut sebagai Cantonies (orang Kanton).

Ketiga, Taiwan atau Chinese Taipei. Nama resminya adalah Republic of China (tanpa people) dan beribu kota di Taipei, sebagian menyebutnya China Taipe. Sistem ekonomi kapiitalis dengan mata uang Taiwan Dollar (TWD). Wilayah ini berada di Pulau Formosa. 

Wilayah ini sering bergejolak karena ingin memerdekakan diri sepernuhnya, sama seperti Hong Kong. Taiwan merupakan negara dengan pengakuan terbatas, karena hanya 23 negara yang mengakui Taiwan sebagai negara berdaulat. Secara de facto Taiwan adalah negara tapi secara de jure Taiwan belum mendapatkan pengakuan, termasuk oleh Perserikatan Bangsa Bangsa.

Wilayah ini sama seperti Palestina dan Kosovo yang bersengketa. Meskipun bukan negara yang berdaulat, tapi secara ekonomi, Taiwan sangat berkkembang produktif. Salah satunya dalam mengembangkan merk teknologi kelas dunia seperti Asus, BenQ, HTc, D-Link, Trend Micro dan Mio Tech.

Keempat, Macau atau Macao. Wilayah ini terletak di pesisir selatan RRT. Hampir sama dengan Hong Kong, wilayah ini berstatus sebagai Daerah Adminstrasi Khusus yang berlaku hingga 20 Desember 2049.

Wilayah yang dijajah oleh Portugis ini diberikan kepada RRT setelah ditandanganinya perjanjian antara Portugal dengan RRT 20 Desember 1999. Selama lebih dari 400 tahun, wilayah Makau adalah wilayah jajahan Portugis, makanya atsmofir Eropa masih sangat kental, seperti bangunan dan tulisan-tulisan informasi dengan bahasa Portugis.

Bahasa yang digunakan adalah bahasa Kantonis, Portugis dan Inggris. Mata uangnya adalah Pataca Macau, meski Dolar Hong Kong juga berlaku disini. Sistem ekonomi menggunakan kapitalis.

Tempat ini dikenal sebagai pusat kasino terbesar di Asia dan sering dijuluki The Sin City of Asia (Kota Dosa Asia). Boleh dikatakan, disini tempat surga judi terbesar di dunia yang buka 24 jam. Untuk suhu politik anti-Beijing di Macau terbilang stabil dibandingkan dengan Hong Kong dan Taiwan.

Itulah secara garis besar perbedaan keempat negara itu. Meskipun Hong Kong, Taiwan dan Macau bukanlah negara berdauat, namun mereka memilki aturan masing-masing. Termasuk paspor sendiri-sendiri. Misalkan orang RRT berkunjung ke Taiwan, Hong Kong dan Macau wajib menggunakan pasport atau sebaliknya.

RRT tidak ingin membiarkan wilayah-wilayah itu berdaulat sepenuhnya. Beijing ingin adanya One China Policy yaitu kebijakan satu Cina. Mereka ingin hanya ada satu China di dunia untuk menjaga peradaban dan memperkuat kekuatan mereka di dunia.[]

Sumber:
Wikipedia
aceh.tribunnews.com

Sunday, July 29, 2018

Perjuangan Senjata di Kabupaten Purbalingga 1945-1949 [Proposal Penelitian]

Usman Janatin, Pahlawan dari Purbalingga

Sunday, May 27, 2018

Sabah Dalam Arus Sejarah: Dari Zaman Neolitikum Hingga Referendum


arifsae.com - Bukti pertama kehidupan di Sabah ditandai dengan ditemukannya peralatan batu dan sisa makanan dari ekskavasi di sepanjang wilayah Teluk Darvel di Gua Madai-Baturong, dekat dengan Sungai Tingkayu. Penemuan batu ini diperkirakan berasal dari 20.000-30.000 tahun yang lalu.
Bagian Muzeum Sabah (dok. Pribadi)

Saturday, May 26, 2018

Asal Usul Nama Sabah


arifsae.com - Saat ini, Sabah merupakan wilayah negara bagian dari Kerajaan Malaysia yang termasuk kedalam 13 negara dalam persekutuan Malaysia. Wilayah ini merupakan wilayah terbesar kedua, setelah Sarawak, dalam bagian persekutuan itu. Julukan untuk menggambarkan wilayah ini adalah Negeri di Bawah Banyu (Land Below the Wind).

Nama Sabah sendiri mempunyai banyak arti. Para sejarawan berbeda pendapat mengenai asal usul nama Sabah ini. Salah satu teori yang sering menjadi rujukan yaitu ketika wilayah Sabah masih menjadi wilayah Kasultanan Brunei.

Menurut teori ini, kata Sabah berasal dari sebuah Pohon Pisang bernama “Saba”. Pohon ini sering ditemukan di kawasan pantai Barat Sabah. Pisang Saba ini juga dikenal sebagai “Pisang Menurun” oleh masyarakat setempat.

Nama Saba kemudian berkembang menjadi Sabah, yang berasal dari penamaan orang Melayu Brunei yang bermakna “hulu” atau sebelah Utara Sungai. Selain teori Pohon Pisang Saba, juga ada teori penamaan Sabah berasal dari kata “Sabak” yang bermakna “Tempat gula aren diekstrak”. Dalam bahasa Arab, kata Sabah juga berarti “Matahari Terbit”.
Bendera Sabah
(Sumber gambar: beritadaily.com)

Monday, May 14, 2018

Onje Sebagai Akar Sejarah Kabupaten Purbalingga

Agenda Grebeg Onje 2017
arifsae.com - Sejarah berasal dari bahasa Arab ‘sajaroh’, yang artinya pohon. Konstruksi anatomi pohon terdiri dari tiga komponen utama, yaitu  akar, batang dan buah/daun.  Dengan demikian, sejarah bisa dimaknai sebagai anatomi ‘pohon peradaban’ yang terdiri dari akar masa silam, batang masa kini, dan buah masa depan.  Jadi, sejarah merupakan kesatuan tiga dimensi waktu  (masa silam, masa kini dan masa depan) yang menjadi ruang tumbuh kebudayaan manusia. Batang pohon masa kini tidak bisa dipisah dari akar masa silam.  Batang pohon yang terputus dari akarnya akan mati dan mustahil bisa memproduksi buah.  Purbalingga sebagai sebuah tatanan sosial, adalah juga sebuah ‘pohon’ peradaban yang harus terus dicari persambungan akar nilai kesejarahannya.

Transisi Majapahit → Demak Oleh Wali Sanga
Pasca Majapahit, Islam mendapat momentum sejarah untuk hadir dan terlibat sebagai subyek nilai di dalam proses politik Nusantara. Demak merupakan hasil karya peradaban Bangsa Nusantara pasca Majapahit. Sebuah tatanan sosial yang dikonstruksi berdasarkan nilai-nilai Islam. Keruntuhan Majapahit tahun 1479 M yang dikenal dengan istilah ‘sirna ilang kertaning bumi’ adalah peristiwa paling tragis dalam sejarah Nusantara. Berbagai konflik internal keraton dan bencana alam berupa semburan lumpur di daerah Canggu membuat keutuhan Majapahit gagal dipertahankan. Kerajaan yang sedemikinan besar dan menjadi kebanggaan Bangsa Nusantara ini ‘luluh lantak’ di lantai sejarah. Tokoh-tokoh Islam yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga mencoba menawarkan alternatif solusi untuk merespon tragedi akbar tersebut. Keputus asaan bangsa nusantara mencoba dibangkitkan kembali dengan dibangunnya kerajaan atau kesultanan Demak. Ide Wali Sanga inilah yang menjadi episode baru tatanan politik Nusantara.

Demak berhasil mengutuhkan kembali puing-puing peradaban Nusantara. Tatanan dengan nuansa dan atmosfir baru ini seperti semilir angin pantai yang meyegarkan kembali jiwa bangsa nusantara yang sempat depresi akibat tragedi sirna ilang kertaning bumi. Wali Sanga adalah konseptor yang meletakan batu bata sejarah peradaban Nusantara pasca Majapahit. Setelah sebelumnya di era pra Demak,  kebudayaan Nusantara diinspirasi oleh konsep nilai Hindu-Budha. Demak sebagai pusat kekuasaan tentu sangat efektif sebagai sarana penyebaran Islam di Nusantara. Kerajaan Islam besutan Wali Sanga ini kemudian berlangsung hingga beberapa kali pergantian Raja. Dimulai dari Raden Patah (1500 – 1518), lalu digantikan putranya yaitu Pati Unus (1518 – 1521). Setelah Pati Unus Wafat, tahta kerajaan dipegang oleh adiknya yang bernama Sultan Trenggono (1521 - 1546). Kemudian putra Sultan Trenggono yang bernama Sultan Prawoto atau pangeran Mukmin (1546 – 1549) menjadi raja terakhir kerajaan Demak.

Sepeninggal Sultan Prawoto, Wali Sanga kemudian berinisiatif memindahkan pusat konsentrasi perjuangan Islam ke daerah pedalaman Jawa, yaitu Pajang, di daerah Surakarta. Murid pinunjul Sunan Kali Jaga yang bernama Jaka Tingkir alias Mas Karebet yang mendapat ‘titah langit’ untuk menjadi Raja pertama pedalaman Jawa dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Dari Pajang lah kemudian syiar Islam merambah di wilayah pedalaman Jawa. Konsepsi Islam terus menjadi inspirasi perjalanan sejarah hingga ke berbagai level tatanan sosial.

“Tѐtѐsing Madu, Rembesing Kusuma” - Bibit Unggul ‘Pohon’ Purbalingga -
Salah satu daerah pedalaman Jawa yang tidak bisa lepas dari eksistensi politik Pajang  adalah Purbalingga. Bahkan hubungan Purbalingga dan Pajang bisa dibilang sebagai hubungan istimewa karena berkait langsung dengan urusan Trah Raja Pajang. Dari sinilah terlihat bahwa Purbalingga sesungguhnya memiliki garis sejarah yang kuat dengan Pajang. Garis sejarah tersebut tentu bisa menjadi modal moral dan spiritual bagi Purbalingga masa kini untuk menemukan martabat dan harga diri sejarahnya. Hubungan antara Purbalingga dengan Pajang menjadi istimewa karena Pajang merupakan kerajaan Islam pertama yang berhasil didirikan di daerah pedalaman Jawa. Artinya, Purbalingga memiliki tali sejarah yang tersambung dengan artefak penting dalam sejarah pekembangan Islam, yaitu Pajang. Berikut uraian lengkap yang menjadi fakta bahwa Purbalingga memiliki ketersambungan darah sejarah dengan Pajang.

Ki Tepus Rumput, tokoh inilah yang mengawali cerita  babad Onje.  Beliau merupakan tokoh sentral keberadaan Kadipaten Onje pada masa lampau. Diceritakan Sanurji (juru kunci makam Adipati Onje), ketika itu di suatu tempat masih dalam keadaan alas (hutan) gung liwang-liwung. Tempat tersebut berada di sebelah timur gunung Slamet. Dialah petualang yang berasal dari bang kulon (wilayah barat). Nama sang petualang itu Ki Tepus Rumput. Dalam perjalanannya Ki Tepus Rumput singgah di suatu tempat. Duduk di atas sebuah batu dan bersandar pada pohon jati sambil beristirahat. Ternyata pohon jati yang digunakan untuk bersandar Ki Tepus Rumput berbau wangi. Tempat peristirahatan itu sekarang di kenal dengan nama Jati Wangi. (menurut  Sanurji).

Kemudian mendengar suara kokok ayam jantan dari arah tenggara. Dengan mendengar kokok ayam tersebut Ki Tepus Rumput menduga, ada manusia lain yang mendiami tempat itu. Ki Tepus Rumput mencari tempat asal suara kokok ayam, ternyata ada sebuah padepokan yang dihuni oleh Ki Onje Bukut. Di sekeliling  padhepokan itu ditumbuhi banyak pohon burus.   Ki Tepus Rumput juga ditemui oleh sosok manusia, yang bernama Ki Kantharaga. Dalam pertemuannya itu Ki Tepus Rumput di suruh bertapa di wetan gunung gede (Gunung Slamet) yang bernama bukit Tukung. Ternyata Ki Kantharaga setelah memberikan wejangan dan perintah kemudian menghilang. 

Karena  tempat pertemuan antara Ki Tepus Rumput, Ki Onje Bukut dan Ki Kantharaga banyak ditumbuhi pohon burus maka tempat itu dinamakan Onje (bunga/kembang pohon burus). Petualangan Ki Tepus Rumput   sekaligus  merupakan suatu perjalanan ritual berupa bertapa. Dalam  bertapa tersebut mendapatkan suatu wisik (ilham) agar mengikuti suatu sayembara yang diselenggarakan Sultan Pajang. Sayembara tersebut dilaksanakan karena Cincin milik Sultan Pajang yaitu Socaludira hilang. Cincin tersebut masuk ke jumbleng (jamban),  dan belum ada yang dapat menemukannya. Isi sayembara tersebut, bahwa barang siapa yang dapat menemukan Cincin Sultan Pajang maka apabila seorang perempuan akan dijadikan istri dan apabila seorang laki-laki  dihadiahi Garwa Selir Sultan yaitu Putri Adipati  Menoreh yang bernama Kencana wungu dan tanah seluas dua ratus grumbul.

Dalam mengikuti sayembara di Keraton Pajang, Ki Tepus Rumput  berhasil menemukan Cincin Socaludira  milik Sultan Hadiwijaya.  Maka ditepatilah janji Sultan Hadiwijaya bahwa kalau yang dapat menemukan seorang laki-laki maka akan diberi hadiah garwa selir.  Yaitu seorang putri yang berasal dari Menoreh anak dari Adpiati Menoreh. Maka sang Sultan pun memberikan hadiah tersebut dengan disertai pemberian lainnya yaitu berupa tanah seluas 200 grumbul dan diberi julukan atau “Sinebut Ing Ngaluhur, Kiyai Ageng Ore-Ore”.  Sultan Hadiwijaya berpesan bahwa sang putri jangan sekali-kali “digauli”.  Dalam naskah Babad  Onje disebutkan,

“Ingkang abdi sami boten saguh  mendhet, amung Kyai Ki Tepus Rumput   ingkang saged mendhet. Lajeng dipunpaikani dinamelan sumur ing sandhingipun, nunten kepanggih kagungan dalem supe, lajeng kapundhut kalih Kanjeng Sultan Pajang, dhawuhe Kanjeng Sultan, “ingsun ora wani-wani, sapa kang anemokaken manira paringi bojo ingsung bocah desa asal Menoreh, Putrane Kyai Dipati Menoreh, iya rawatana, ananing iya wus meteng olih kapat tengah, iya iku poma-poma aja kowe tumpangi”.

Dari uraian tersebut menjelaskan bahwa Kadipaten Onje berhubungan erat dengan kerajaan Pajang. Kerajaan Pajang merupakan kerajaan Islam yang berdiri pada tahun 1568 M didirikan oleh Jaka Tingkir yang mempunyai nama lain Mas Karebet putra Ki Ageng Pengging atau Kebo Kenongo, kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya. Kedudukannya sebagai Raja Pajang disahkan oleh Sunan Giri .

ONJE : Akar ‘Pohon’ Purbalingga
 Tidak ataupun belum ada  yang menyebutkan tahun berapa secara pasti kerajaan Pajang mengadakan sayembara yang dimenangkan oleh Ki Tepus Rumput. Setelah mengikuti sayembara dan berhasil mendapatkan hadiah dari Sultan Hadiwijaya, Ki Tepus Rumput  kemudian kembali ke arah barat,  yaitu ke dhusun Truka Onje  dengan disertai empat  orang pengawal yaitu:

1. Puspa Jaga
2. Puspa Kantha
3. Puspa Raga
4. Puspa Dipa  

Dengan demikian maka Ki Tepus Rumput   menjadi Adipati I  di Kadipaten Onje, dengan julukan Kyai Adipati Ore-Ore. Sebagai pusat Kadipaten berada di sebelah timur Sungai Klawing. 

Tibalah pada saatnya anak yang dikandung Putri Menoreh lahir, dan ternyata lahir bayi laki-laki. Ki Tepus Rumput memberitahukan kepada Sultan Pajang. Sultan Pajang bersabda;

“Ya kaulah yang merawat anak itu baik-baik, besok jika anak itu sudah mampu melayamkan tombak bawalah kemari”. 

Maka setelah tiba pada waktunya, dipersembahkanlah anak itu ke Keraton Pajang. Kemudian Sultan Hadiwijaya memberi nama atau gelar  Kyai Adipati Anyakrapati ing Onje, dengan ditandai upacara bupati serta diberi tanah seluas 800 grumbul. Selain itu juga diberi sentana kamisepuh atau pengikut kaum kepala desa sebanyak tujuh keluarga supaya menjadi pembantu di Onje.

Setelah menata pemerintahan dan dirasa sang Putra Sultan sudah mampu menjadi adipati  yang mumpuni, maka Ki Tepus Rumput  melanjutkan petualangannya menuju ke arah timur Kadipaten Onje.

Adipati Onje II kemudian dipegang oleh Anyakrapati. Adipati Anyakrapati menikah dengan dua orang wanita, yaitu Puteri Keling dari Jawa Barat, dan puteri adipati cipaku yang benama Rara Pakuwati. Pernikahannya dengan puteri keling tidak dikaruniai anak. Dari Rara Pakuwati, Adipati menurunkan tiga orang anak, yaitu Raden Mangunjaya, Raden Citra Kusuma dan Rara Banowati.  Dua orang Istrinya ini kemudian wafat oleh sebuah peristiwa di internal keluarga kadipaten.

Setelah dua orang istri adipati Anyakrapati meninggal dunia, beliau kemudian menikah lagi dengan puteri adipati Arenan yang bernama Nyai Pingen. Dari Istrinya yang ketiga inilah, lahir dua orang putra yang bernama Ki Wangsantaka dan Ki Arsantaka.

Dua orang dengan watak dan potensi yang pinunjul. Dua Jawara ini menarik untuk dikupas hingga ke ceruk terdalam ruang sejarah Purbalingga. Kakak beradik ini mengambil pilihan sikap yang berbeda dalam menjalani prinsip-prinsip sejati kemanusiaannya. Ki Wangsantaka memilih memegang idealisme Onje dengan meneruskan seluruh tata nilai yang dibangun leluhurnya. Sementara itu Ki Arsantaka memilih mengembara ke luar Onje dan berkarir di pemerintahan Belanda waktu itu. Dua sikap yang tampak berseberangan jika dilihat dari kulit luarnya. Tetapi jika kita bersedia untuk sedikit arif dalam melihat persoalan dan realitas di jaman itu, pilihan Ki Arsantaka tentu bukanlah keputusan yang keliru.

Ki Wangsantaka yang kuat memegang prinsip, dengan menolak berkompromi dengan Belanda waktu itu adalah juga sebuah ketangguhan nasionalisme yang patut untuk diteladani. Dengan segala resiko yang harus dihadapi, Ki Wangsantaka memilih berkonfrontasi dengan Belanda. Pada sisi lain, sikap fleksibel dan kompromis Ki Arsantaka juga membuahkan prestasi yang besar. Belanda dipandang oleh Ki Arsantaka terlalu kuat jika harus diladeni secara militer. Maka dengan bergabung menjadi pejabat pemerintahan Belanda, yaitu menjadi Demang di daerah Banjarnegara, Ki Arsantaka berhasil meminimalisir kebringasan Belanda. Kabupaten Purbalingga tetap dipegang oleh trah Onje adalah bukti penghormatan Belanda kepada Ki Arsantaka. Inilah prestasi diplomatik yang brilian dari salah seorang putra mahkota Onje.

Sementara Ki Wangsantaka dengan segala keteguhan pribadinya itu merupakan ‘penjaga gawang' nilai patriotisme. Sikap Ki Wangsantaka telah membuktikan kepada dunia bahwa Onje sebagai sebuah wilayah perdikan yang gagal ‘dirayu’ oleh Belanda untuk tunduk dan bertekuk lutut.

Kyai Arsantaka
Setelah dewasa, Kyai Arsantaka menikah dengan 2 orang putri. Istri pertama bernama Nyai Merden dan istri kedua bernama Nyai Kedung Lumbu. Dari istri pertama, Kyai Arsantaka di karuniai 5 orang putera, yakni; pertama Nyai Arsamenggala, kedua Kyai Dipayuda, ketiga Kyai Arsayuda, yang kemudian menjadi menantu Tumenggung Yudanegara II. Putera keempat bernama Mas Ranamenggala dan kelima adalah Nyai Pancaprana. Dengan istri kedua, Kyai Arsantaka di karuniai 1 putera yaitu Mas Candrawijaya, yang di kemudian hari menjadi Patih Purbalingga.

Dari babad inilah maka selanjutnya masyarakat Purbalingga meyakini bahwa Kyai Arsantaka merupakan leluhur para penguasa di Kabupaten Purbalingga.

Kabupaten Purbalingga, menurut Babad Purbalingga, di awali ketika Kyai Arsayuda, Putera ke-3 Kyai Arsantaka dari istri pertamanya yaitu Nyai Merden, di jadikan menantu Tumenggung Yudanegara II,  yang kemudian diangkat sebagai Bupati Banyumas, selanjutnya diangkat menjadi Bupati Purbalingga dengan gelar Ngabehi Dipayuda III.

1.  R. Tumenggung Dipayuda III
R. Tumenggung Dipayuda adalah putra ke-3 dari Kyai Arsakusuma yang berganti nama menjadi Kyai Arsantaka dengan istri yang bernama Nyai Merden. Banyak babad atau cerita tentang berdirinya sebuah pusat kekuasaan kabupaten Purbalingga, dimana  Kyai Arsantaka disebut-sebut sebagai cikal bakal berdirinya kabupaten Purbalingga. Dari perkawinannya dengan Nyai Merden, Kyai Arsantaka dikaruniai 5 orang putera, yakni: Nyai Arsamenggala, Kyai Dipayuda I, Kyai Arsayuda, Mas Ranamenggala dan terakhir adalah Nyai Pancaprana.

Sebelum menjadi Bupati Purbalingga, Kyai Arsayuda adalah menantu dari Tumenggung Yudanegara II ( 1728-1759) yang kemudian diangkat sebagai Bupati Banyumas, selanjutnya diangkat sebagai Bupati Purbalingga bergelar Ngabehi Dipayuda III.

Pada masa kekuasaan R. Tumenggung Dipayuda III, pemerintahannya dianggap monumental karena desa Purbalingga di jadikan sebagai Ibukota kabupaten yang sebelumnya berada di Karang lewas.

2.  R. Tumenggung Dipakusuma I
R. Tumenggung Dipakusuma adalah putra dari Ngabehi Dipayuda III dengan istri ke-3 yang bernama Nyai Tegal Pingen (putri dari Kyai Singayuda dan cucu dari Pangeran Mahdum Wali Prakosa, Pekiringan). Dari perkawinan tersebut, R. Ngabehi Dipayuda III dikaruniai 5 orang putra, yakni; pertama Raden Tumenggung Dipakusuma I yang kemudian menjadi Bupati Purbalingga menggantikan Ngabehi Dipayuda III, kedua Raden Dipawikrama yang kemudian menjadi Ngabehi Dayuh Luhur, ketiga R. Kertasana yang kemudian diangkat menjadi Patih purbalingga, keempat R. Nganten Mertakusuma dan kelima Kyai Kertadikrama yang kemudian diangkat menjadi Demang Purbalingga.

3. R. Tumenggung Bratasoedira (24 Juni 1830)
R. Tumenggung Bratasoedira adalah putra dari R. Tumenggung Dipakusuma I dengan Raden Ayu Angger, puteri Pangeran Aria Prabu Amijaya yang berarti cucu dari  Mangkunegara I. Dengan perkawanan tersebut, R. Tumenggung Dipakusuma I dikaruniai 4 putra, yakni; pertama Raden Mas Tumenggung Bratasoedira ( Raden Mas Danukusuma), Kedua Raden Mas Bratakusuma, ketiga Raden Mas Taruna Kusuma I,  dan keempat adalah Raden Ayu Suryaningrat.  

4.  R. Tumenggung Taruna Kusuma I (1 Agustus 1830)
R. Tumenggung Taruna Kusuma adalah adik dari R. Tumenggung Bratasoedira, yang berarti adalah putra ke-3 dari R. Tumenggung Dipakusuma I dengan istrinya Raden Ayu Angger ( cucu dari Amangkurat I).

5. R. Tumenggung Dipa Kusuma II (22 Agustus 1831)
R. Tumenggung Dipa Kusuma II adalah putra dari Raden Mas Tumenggung Bratasudira (Bupati Purbalingga ke-3) yang kawin dengan Mbok Mas Widata dari Kawong. Dari perkawinan tersebut di karuniai 4 putra, yakni; pertama Raden Ayu Mangkusudira, kedua Raden Anglingkusuma, ketiga Raden Mas Tumenggung Dipa Kusuma II, keempat Raden Dipasudira.  

6.  R. Adipati Dipa Kusuma III (7 Agustus 1846)
R. Adipati Dipa Kusuma III adalah putera pertama dari R. Tumenggung Dipa Kusuma II dengan istri keduanya yaitu Raden Ayu Karangsari, puteri dari Raden Tumenggung Citrasuma, Bupati Jepara.

7.  R. Tumenggung Dipa Kusuma IV (4 Sept 1869)
R. Tumenggung Dipa Kusuma IV adalah putra dari Raden Tumenggung Dipa Kusuma II dengan istri ke-3 nya yang bernama Raden Ayu Brobot. Dengan istri ke-3 nya, Dipa Kusuma II di karuniai 5 putra, yakni; pertama Raden Ayu Adipati Suranegara, menjadi bupati Pemalang, kemudian yang kedua  R. Dipaningrat, ketiga Raden Dipaatmadja yang kemudian menjadi patih Banyumas selanjutnya menjadi Bupati Purbalingga dengan gelar Raden Tumenggung  Dipa Kusuma IV. Kemudian keempat adalah Raden ayu Dipasudira dan kelima Raden Ayu Mangku Atmadja.

8. R. Tumenggung Dipa Kusuma V (14 Februari 1868)
R. Tumenggung  Dipa Kusuma V adalah putra dari R. Tumenggung Dipa Kusuma IV dengan istrinya yang bernama Raden Ayu dipa Atmadja. Dari perkawinan tersebut di karuniai 8 putra, yakni; Raden Ayu Tumenggung Cakraseputra, menjadi Bupati Purwokerto, kedua Raden Tumenggung Dipa Kusuma V ( Kanjeng Candi Wulan), ketiga Raden Adipati Dipa Kusuma VI, keempat Raden Ayu Wiryaseputra, kelima Raden Sumadarmaja, keenam Raden Ayu Adipati Cakranegara, ketujuh Raden Ayu Taruna Kusuma IV,  dan kedelapan Raden Ayu taruna Atmadja.

9. R. Brotodimedjo (20 Nopember 1893-13 Sept 1899)
Raden Brotodimedjo adalah Ymt Bupati Purbalingga. Ia adalah mantan patih Purbalingga.

10. R. Tumenggung Adipati Dipa Kusuma VI (13 Sept 1899)
R. Tumenggung Dipa Kusuma VI adalah adik dari Dipa Kusuma V, yang berarti putra ketiga dari R. Adipati Dipa Kusuma dengan istri yang bernama Raden ayu Dipa Atmadja.

11. K.R.A.A. Soegondo (29 Oktober 1925)
K.R.A.A Soegondo adalah putra dari  Raden Tumenggung Dipa Kusuma IV, yang sekaligus menjadi menantu dari Paku Buwono X di Surakarta.
Selanjutnya setelah kekuasaan K.R.A.A. Soegondo berakhir, terjadi kevakuman.  Baru kemudian, setelah Indonesia merdeka bupati Purbalingga diangkat oleh DPRD, berturut-turut dapat disebutkan sebagai berikut:

12. Mas Soeyoto  (1946-1947)
13. R. Mas Kartono    (1947-1950)
14. R. Oetoyo Koesoemo  (1950-1954)
15. R. Hadisoekmo  (1954-1960)
16. R. Mohammad Soedjadi  (1960-1967)
17. R. Bambang Moerdharmo, SH  (1967-1973)
18. Letkol PSK Goentoer Daryono   (1973-1979)
19. Drs. Soetarno   (1979-1984)
20. Drs. Soekirman   (1984-1989)
21. Drs. Soelarno  (1989-1999)
22. Drs. H. Triyono Budi Sasongko, M.Si + Drs. Sotarto Rahmat   (2000-2005)
23. Drs. H. Triyono Budi Sasongko, M.Si + Drs. Heru Sudjotmoko,M.Si   (2005-2010)
24. Drs. Heru Sudjatmoko, M.Si+ Drs. Sukento Ridho Marhaendriyanto,M.Si  (2010-2015)
25.  Drs. Sukento Ridho M + H. Tasdi, SH MM. (2015-2016).
26.  H. Tasdi SH MM + Dyah Hayuning Pratiwi, S.E, B.Econ. (2016-2021).

Oleh : Agus Sukoco, dipaparkan dalam rangkaian acara Grebeg Onje 2017

Monday, December 11, 2017

Pengantar Penulis Buku Biografi Usman Janatin

Revisi ke-2 
 Alhamdullilah, dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, kerjasama antara penulis dengan Direktorat Sejarah, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selesai dengan terbitnya buku ini. Buku ini disusun dalam rangka untuk melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan kearifan dan kekayaan nilai-nilai sejarah bangsa Indonesia. Dengan tujuan itu, pada awal tahun 2017 Direktorat Sejarah melalui program Fasilitasi Komunitas Kesejarahan Tahun 2017 memberikan bantuan kepada individu ataupun kelompok masyarakat di Indonesia untuk mengangkat nilai-nilai sejarah yang terkandung didalam lingkungan sekitar.
Dengan semangat untuk melindungi, mengembangkan dan memperkuat segala inisiatif pengembangan kesejarahan di Indonesia, maka Direktorat Sejarah membagi bantuan ini kedalam 5 (lima) bagian fasilitasi, (1) Penulisan Sejarah Lokal untuk Guru (MGMP) Sejarah; (2) Penulisan Sejarah untuk Umum; (3) Event Sejarah; (4) Pengembangan Aplikasi Kesejarahan; dan (4) Pembuatan Film Sejarah. Penulis mendapatkan bantuan fasilitasi yang pertama, yaitu penulisan sejarah lokal untuk guru-guru MGMP sejarah.
Tema utama yang penulis pilih adalah sosok Pahlawan Nasional yang berasal dari Kabupaten Purbalingga, yaitu Janatin alias Usman bin Haji Mochammad Ali. Mengapa memilih Janatin? Kita mungkin sangat familiar dengan nama “Panglima Besar Jenderal Soedirman”,  yang hampir disemua kota besar di Indonesia terpampang nama sang Panglima Besar tersebut. Jenderal Soedirman merupakan seorang Pahlawan Nasional yang berasal dari Kabupaten Purbalingga. Namun, apabila menyebut nama Usman Janatin, mungkin akan terdengar asing ditelinga kita. Itulah salah satu alasan penulisan buku ini.
Meskipun masih terdengan asing ditelinga, namun sosok yang juga berasal dari Kabupaten Purbalingga ini pernah mengorbankan nyawa demi membela harkat dan martabat bangsa pada masa Trikora dan Dwikora. Era ketika Republik Indonesia langsung dibawah komando Presiden Sukarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi. Usman Janatin berkontribusi dalam situasi “panas” tersebut, ia dengan rekannya berhasil menjalankan tugas dari kesatuannya, Korps Komando Angkatan Laut (KKO-AL) untuk melakukan sabotese, infiltrasi hingga berhasil meledakan Hotel Mac Donald di Singapura, wilayah yang saat itu masih menjadi bagian dari Federasi Malaysia.
Usaha menjalankan tugas tersebut terhenti ketika Janatin tertangkap dan dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung oleh Pemerintah Singapura. Dengan usaha yang panjang, pemerintah Indonesia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan (setidaknya memperingan) hukuman Janatin dan temannya, namun semua usaha itu berbuah kegagalan. Oleh karena keberanian, ketabahan dan jiwa patriot yang tertanam dalam diri Janatin, maka ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasioanal oleh Presiden Soeharto dan diberikan Tanda Kehormatan Bintang Sakti berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 050/TK/Tahun 1968 tertanggal 17 Oktober 1968.
Meskipun nama ini sudah dianegerai Pahlawan Nasional sejak 17 Oktober 1968, namun nama Usman Janatin tidak bergitu “terkenal”, bahkan oleh warga Kabupaten Purbalingga sendiri. Oleh karena semangat yang dibawa oleh Direktorat Sejarah ini, maka mendorong penulis untuk mengangkat biografi tokoh ini kedalam sebuah buku. Hal ini menjadi urgent, selain untuk menambah referensi tentang Usman Janatin yang masih sangat jarang, juga menjadi ajang untuk mengingatkan sosok Usman Janatin kepada warga Kabupaten Purbalingga khusunya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Buku yang berjudul, “Patriot Bangsa Dari Kota Perwira: Biografi Usman Janatin, 1943-1968” ini akhirnya bisa terselesaikan dengan tanpa sesuatu halangan yang berarti. Meskipun untuk menuliskannya tidak mudah dan membutuhkan usaha yang keras. Karena disatu sisi, penulis harus berpindah tugas dari SMA Negeri 2 Purbalingga ke Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Negara Bagian Sabah, Malaysia. Tapi hal ini tidak menyurutkan semangat untuk menyelesaikan buku ini. Tentunya keberhasilan penyelesaian buku ini memerlukan kontribusi dari berbagai pihak. Untuk itulah dalam kesempatan ini penulis ingin menghaturkan rasa terima kasih kepada guru, Prof. Dr. Sugeng Priyadi, M.Hum yang telah mengajarkan tentang pentingnya sejarah lokal, dan sekaligus pada kesempatan ini berkenan memberikan Kata Pengantar.
Tidak lupa, penulis haturkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Bupati Purbalingga, H. Tasdi, SH, MM. yang berkenan memberikan Kata Sambutan dalam buku ini. Kata Sambutan dari Pak Bupati ini tidak akan lahir apabila tak dibantu oleh Pak Yudhia Permana, karena peran beliaulah akhirnya Kata Sambutan dari Pak Bupati ini berhasil dihimpun. Untuk itulah, penulis sampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya. Terkhusus lagi, kepada kelaurga besar Usman Janatin yang telah memberikan informasi untuk melengkapi penulisan ini, diantaranya Mbah Siti Rodijah, Mbah Siti Turijah dan Mbah Matori juga Mbah Artijo untuk informasi berharga yang sudah diberikan. Semoga diberikan kesehatan dan umur yang panjang.
Ketika sumber lisan tidak memuaskan dahaga penulisan, maka bahan-bahan arsip menjadi pilihan. Oleh karenanya, penulis haturkan terimakasih kepada pihak Perpustakaan Umum Daerah Purbalingga, Kantor Desa Jatisaba Kecamatan Purbalingga dan Jogja Lebrery Center (JLC) untuk koran-koran dan majalah lawasnya. Di Jakarta penulis ucapkan terimakasih kepada Sersan Kasianto yang menjaga Museum Korps Marinir, Jakarta Pusat, karena beliaulah yang memberikan akses terhadap sumber-sumber yang melimpah tentang sosok Usman Janatin ini. Semua tempat-tempat ini memberikan sumbangsih yang berbeda-beda untuk melengkapi isi buku ini.
Beberapa orang juga memberikan bantuan dengan cara yang istimewa. Dorongan, bantuan, semangat, dan persahabatan yang memecahkan penat pikiran ketika sedang bersama-sama dengan teman-teman di MGMP Sejarah Kabupaten Purbalingga. Terkhusus penulis ucapkan terimakasih kepada Pak Ketua, Arifin, S.Pd. yang memberikan bantuan-bantuan tak terlihat namun sangat terasa bagi penulis. Tidak lupa juga teman istimewa dalam proses penelitian, Jarwanto, S.Pd. yang memberikan rasa berbeda pada setiap proses “jalan-jalan” penelitian. Bantuan juga diberikan kepada Umu Hanifah, S.Pd. yang membentu dalam proses pembuatan laporan keuangan untuk dipertanggungjawabkan kepada pihak Direktorat Sejarah. Dan tentunya kepada seluruh teman-teman MGMP Sejarah Kabupaten Purbalingga yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Akhirnya, rasa cinta dan terimakasih penulis haturkan kepada isteri tercinta, Yuli Windarti, S.Pd. dan puteri kecil kami, Naira Ayudiasiya, yang terus mendukung setiap langkah kemana bahtera ini terarah. Penulis haturkan sembah kepada kedua orang tua, Bapak Suwarno dan Ibu Suwarti yang menyokong dengan doa dan tetesan air mata ketika selalu meminta di hadapan-Nya. Adik Khoiratun Sarifah dan seluruh keluarga besar Mbah Warsidi dan Mbah Kimah yang mendukung dengan cara spesial mereka masing-masing.
Penulis menyadari buku ini mempunyai banyak kekurangan dimata pembaca. Untuk itu, khususnya kekurangan-kekurangan dalam buku ini biarlah menjadi tanggung jawab penulis. Dengan kerendahan hati dihaturkan maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak apabila ada bagian dari buku ini yang tidak berkenan. Semoga karya ini diterima amal jariahnya oleh Allah SWT sebagai salah satu amal kesalehan yang tak terputus. Amin.
Akhirnya, penulis ucapkan selamat membaca.

                                                           Sabah, Malaysia, Desember 2017
                                                            Arif Saefudin
Cover Buku Pertama